Menyiapkan Perawat yang Siap Berkompetisi di Era Pasar Global
Saturday, May 10, 2008
Oleh : Elsi Dwi Hapsari
1. Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir ini, pengiriman tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri, khususnya perawat, menjadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai kalangan. Di tengah semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik dari tahun ke tahun1), tentu merupakan hal yang melegakan bahwa perawat dari Indonesia dilaporkan berpeluang bekerja di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Benua Eropa (Inggris, Belanda, Norwegia), Timur Tengah (Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait) dan kawasan Asia Tenggara (Singapura, Malaysia)2-4). Jumlah permintaan berkisar antara 30 orang sampai dengan tidak terbatas5).
Kekurangan perawat di dalam negeri merupakan alasan utama negara-negara tersebut untuk menerima tenaga dari luar negeri. Di AS, misalnya, pada 2005 mengalami kekurangan 150.000 perawat, pada 2010 jumlah tersebut menjadi 275.000, pada 2015 sejumlah 507.000, dan pada 2020 menjadi 808.000 perawat. Namun demikian, kekurangan tersebut tersebut menyebabkan mereka lebih berfokus pada bagaimana menghasilkan perawat yang lebih banyak, bukan untuk mencetak perawat yang berpendidikan lebih baik6).
Di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan kesehatan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang)4). Meskipun jumlah perawat yang bekerja di luar negeri menempati prosentase terbesar dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, masih terdapat beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian dan ditanggulangi mulai dari saat ini.
Tulisan ini mengulas secara singkat tentang persyaratan/ kompetensi yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri, kendala yang muncul dalam proses persiapan pengiriman tenaga perawat Indonesia ke luar negeri, hasil review laporan penelitian tentang perawat yang bekerja di luar negeri dan kemudian penulis mencoba mengidenfikasi peran penting lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia agar dapat mempersiapkan perawat yang siap berkompetisi di era pasar global. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi dan sumbang saran bagi berbagai pihak terkait, terutama bagi lembaga pendidikan keperawatan dan tenaga pendidik perawat di berbagai jenjang pendidikan di tanah air.
2. Persyaratan untuk Bekerja di Luar Negeri Bagi Perawat
Pada umumnya persyaratan yang dibutuhkan agar perawat dapat bekerja di luar negeri adalah lulusan Diploma III Keperawatan dengan dua tahun pengalaman kerja5). Selain itu juga terdapat batasan usia, misalnya untuk dapat bekerja di Uni Emirat Arab atau Kuwait, perawat harus berusia kurang dari 35 tahun. Kemampuan berbahasa Inggris disyaratkan pada beberapa negara seperti Inggris (skor IELTS 6) atau AS (skor TOEFL 540)5,7). Syarat penting lainnya adalah lolos ujian NLEX (National Licence Examination)3).
Melihat persyaratan yang harus dipenuhi tersebut, kita dapat mengasumsikan bahwa tenaga perawat yang bekerja di luar negeri tentu merupakan perawat pilihan dan mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan dalam memberikan perawatan yang berkualitas.
Implikasi dari hal tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Pada satu sisi, perginya perawat yang berkualitas ke luar negeri merupakan suatu keuntungan karena suatu saat mereka akan kembali ke negeri kita dengan memperoleh banyak pengalaman, meningkatnya ketrampilan, dan dapat mengidentifikasi aspek-aspek positif dari negara tempat mereka bekerja. Mereka kemudian dapat menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka peroleh sehingga diharapkan pada akhirnya kualitas keperawatan di Indonesia pun meningkat.
Namun demikian, di sisi lain hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa masyarakat kita menerima pelayanan keperawatan dari tenaga perawat dengan kualitas yang berbeda. Lebih lanjut, rasio jumlah perawat Indonesia per 100.000 penduduk masih jauh di bawah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, atau Thailand. Di Indonesia, terdapat 44 perawat per 100.000, bandingkan dengan 135 perawat di Malaysia, 442 perawat di Filipina, atau 162 perawat di Thailand8).
Selain itu, kekhawatiran terjadinya brain drain juga perlu dicermati. Brain drain adalah berpindahnya tenaga profesional yang terampil dari negara asal ke negara lain dimana mereka dapat memperoleh lebih banyak keuntungan seperti keuangan. Di Filipina, misalnya, yang merupakan salah satu pengirim tenaga perawat terbesar, kekhawatiran tersebut mulai terjadi. Bahkan di sana, tenaga kerja dari profesi lain pun sangat berminat untuk belajar menjadi perawat agar selanjutnya dapat bekerja di luar negeri8).
Tetapi usaha mencegah perawat untuk bekerja di luar negeri dapat menimbulkan pertanyaan, misalnya tentang hak asasi untuk bekerja dan juga menghilangkan kesempatan untuk dapat belajar pengetahuan dan ketrampilan yang berguna dari negara lain untuk selanjutnya diaplikasikan di negara asal9).
3. Kendala Pada Proses Persiapan Pengiriman Tenaga Perawat
Dari beberapa laporan diketahui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh para perawat Indonesia adalah kemampuan berbahasa Inggris dan ketrampilan yang masih kurang3,11). Berkenaan dengan ketrampilan perawat Indonesia yang masih kurang, terlihat dari segi skoring NLEX yang masih rendah. Ujian NLEX sendiri merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar negeri. Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia adalah angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja di Eropa antara 50 sampai 70 dan di AS antara 70 sampai 803).
Dua hal tersebut tampaknya perlu untuk segera ditanggulangi selain faktor-faktor lain yang belum teridentifikasi dalam tulisan ini. Beranjak dari hal inilah sebenarnya lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia dapat mulai ikut berperan aktif dalam merumuskan strategi yang tepat dalam mendidik calon perawat.
4. Laporan Penelitian Tentang Pengalaman Perawat yang Bekerja di Luar Negeri
Laporan tentang pengalaman perawat yang berkerja di luar negeri perlu disampaikan dalam tulisan ini agar kita dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Sampai saat ini penulis belum menemukan laporan penelitian yang terkait dengan pengalaman perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri. Di lain pihak, kebanyakan laporan penelitian di negara lain terkait topik tersebut menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dilaporkan bahwa alasan yang mendorong seorang perawat untuk bekerja di luar negeri antara lain gaji yang lebih tinggi, prospek karir dan pendidikan yang lebih menjanjikan12).
Pada review penelitian oleh Magnusdottir (2005), penelitian Yi & Jezewski (2000) tentang penyesuaian diri 12 Perawat Korea yang bekerja di rumah sakit di AS melaporkan bahwa pada 2-3 tahun pertama mereka bekerja ditandai dengan usaha mengurangi stress psikologis, mengatasi kendala bahasa, dan menyesuaikan diri dengan praktek keperawatan di USA. Kemudian pada 5 - 10 tahun kemudian ditandai dengan belajar mengadopsi strategi penyelesaian masalah menurut budaya AS dan memelihara hubungan interpersonal. Mereka yang berhasil dalam proses tersebut dilaporkan merasa puas13).
Masih dari laporan yang sama, DiCicco-Bloom (2004) melaporkan bawa perawat India yang bekerja di AS mengidentifikasi bahwa rasisme dan marginalisasi merupakan issue utama selama mereka bekerja di sana. Hasil penelitian Allan & Larsen (2003) di Inggris menyebutkan bahwa perawat luar negeri yang bekerja di negara tersebut mengalami diskriminasi, eksploitasi, diasingkan oleh rekan kerja, konflik di tempat kerja, dan masalah bahasa13).
Beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan cukup banyak tantangan yang dihadapi oleh perawat yang bekerja di negara lain. Hal ini semakin menegaskan diperlukannya berbagai antisipasi dan persiapan yang matang bagi perawat sebelum mereka berangkat ke negeri tujuan.
4.Peran Lembaga Pendidikan Keperawatan
Adanya kesempatan bagi perawat yang bekerja di luar negeri dapat dilihat sebagai faktor pencetus bagi lembaga pendidikan keperawatan untuk dapat meluluskan perawat berkualitas, yang memenuhi tuntutan masyarakat di dalam dan luar negeri, dan mempunyai kemampuan untuk bekerja lintas negara dengan sistem perawatan kesehatan dan karakteristik masyarakat yang berbeda.
Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan sekitar 200 suku dan 500 bahasa14) sebenarnya merupakan tempat pembelajaran yang sangat potensial bukan hanya bagi para peserta didik namun juga bagi para tenaga pendidik. Meskipun nantinya mereka bekerja di luar negeri dan menghadapi budaya dan sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, namun setidaknya mereka telah mulai belajar dari hal-hal yang ada di sekitar mereka.
Dua strategi utama yang perlu dilaksanakan di lembaga pendidikan keperawatan adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan keperawatan.
Agar dapat mencetak tenaga perawat yang berkualitas internasional, tentu tenaga pendidik perlu menjadikan dirinya sebagai model perawat yang berkompeten. Kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu pada tingkat dan derajat kualitas yang diharapkan15). Diakui bukan hal yang mudah untuk mencapai standar ini namun bukan berarti tidak dapat dimulai. Kemauan untuk terus belajar, baik yang terkait dengan bidang yang ditekuni maupun yang di luar bidang tersebut, dan terus meningkatkan kemampuan berbahasa asing merupakan modal yang perlu dikuasai. Pendidik juga dituntut untuk mengaplikasikan strategi mengajar yang dapat mengembangkan pola berpikir kritis pada calon perawat sehingga mereka dapat bekerja di komunitas suku dan budaya yang beragam.
Strategi yang menyangkut pendidikan keperawatan meliputi upaya peningkatan fasilitas pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memperoleh ilmu seluas mungkin. Kesan bahwa banyak pendidikan keperawatan yang cenderung "kejar setoran saja" perlu dibenahi. Ada banyak hal yang dapat dilakukan misalnya dengan melengkapi inventaris perpustakaan, berlangganan jurnal-jurnal keperawatan, dan membina kerja sama dengan rumah sakit dan komunitas.
Selain itu, sudah diketahui bahwa kesadaran masyarakat tentang pelayanan kesehatan yang berkualitas semakin tinggi. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pun perlu lebih menyiapkan para mahasiswanya agar pada saat kontak langsung dengan masyarakat (baik di rumah sakit ataupun di komunitas) mereka telah mempunyai bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup. Fasilitas laboratorium yang kondisinya persis dengan rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan menjadi hal yang sangat perlu untuk dikembangkan di lembaga pendidikan keperawatan. Di tempat tersebut mahasiswa berlatih pengetahuan dan ketrampilan sampai pada tingkat yang diharapkan. Baru kemudian setelah dinyatakan lulus, mereka dapat mempraktekkannya di rumah sakit dan atau komunitas.
Strategi lainnya adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lain untuk meningkatkan kualitas lulusan. Hal ini telah mulai dilakukan di beberapa lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia, yaitu kerja sama membuat semacam unit pelatihan untuk persiapan perawat bekerja di luar negeri dan merintis pembuatan kurikulum berstandar internasional. Dalam pembuatan kurikulum tersebut, tidak dapat diasumsikan bahwa nilai-nilai yang ada dalam kurikulum suatu negara dapat serta-merta diaplikasikan di negara yang lain, sehingga dibutuhkan saling pengertian, saling menghargai, dan tidak kalah penting, keinginan untuk saling belajar nilai-nilai dari negara masing-masing16).
Program pertukaran tenaga pendidik dan mahasiswa keperawatan dari satu institusi ke institusi lain di dalam negeri maupun dengan institusi dari luar negeri perlu untuk dipertimbangkan. Hal ini dapat membantu mereka untuk memperoleh gambaran masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan yang berbeda. Namun demikian, tidak semua lembaga pendidikan dapat melaksanakan hal ini, terutama karena adanya kendala keuangan dalam pelaksanaannya. Salah satu alternatif untuk mengatasinya adalah dengan mengoptimalkan penggunaan internet14). Tanpa harus melakukan perjalanan ke negara lain, tenaga pendidik maupun peserta didik dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan meskipun mungkin dalam prosentase yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan melakukan observasi secara langsung. Selain itu, menghadiri ataupun mengadakan acara konferensi ilmiah, seminar, atau simposium berskala nasional maupun internasional perlu dilakukan untuk membuat dan membina jaringan dengan pihak lain.
Segala kegiatan dan strategi yang dilaksanakan perlu dievaluasi secara terus-menerus. Penelitian ilmiah baik oleh tenaga pendidik secara individual maupun secara kelembagaan perlu untuk dilakukan dan dikembangkan sehingga kebijakan yang diambil selanjutnya mempunyai pijakan yang kuat dan bukan hanya berdasarkan asumsi. Terakhir, peran penting lembaga pendidikan keperawatan yang telah teridentifikasi dalam tulisan ini tidak akan mencapai hasil yang optimal bila tidak diimbangi oleh dukungan, strategi atau kebijakan yang seiring dari pemerintah, organisasi profesi, maupun masyarakat.
5. Kesimpulan
Adanya peluang untuk bekerja di luar negeri bagi tenaga perawat Indonesia merupakan hal yang menggembirakan sekaligus dapat dijadikan momentum untuk meningkatan kualitas perawat Indonesia. Lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia mempunyai peran penting dalam mempersiapkan perawat berkualitas dan yang mampu bersaing di era pasar global.
6. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kobe dan dr. Thohar Arifin atas saran dan masukan yang sangat berharga pada tulisan ini.
7. Daftar Pustaka
-Jumlah Pengangguran Terdidik Bertambah. Website URL http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/04/ked11.htm
-Arab Saudi Butuh 500 Tenaga Medis asal Indonesia. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/ragam.php3?id=12
-Terbuka Lebar Peluang Kerja Perawat di Amerika, Arab dan Eropa. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/ragam.php3?id=10
-Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan Luar Negeri. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/profil/puspronakes.php3
-Analisa Pasar Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia di Berbagai Negara. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/data/pasar.php3
-Bartels, J.E. Educating Nurses for the 21st Century. Nursing and Health Sciences (2005), 7, 221-225.
-Press Release Pelepasan Perawat ke Amerika Serikat. Website URL http://www.bppsdmk.or.id/data/sekilasinfo.php3?id=17
-Basic Data of Human Resources for Health: Density of all nurses per 100 000 population. Website URL http://www.who.int/globalatlas/dataQuery/reportData.asp?rptType=1(last updated 26 October 2004)
-Perawat, Dokter Filipina Berbondong-bondong ke Luar Negeri. Website URL http://www.pusdiknakes.or.id/news/utama.php3?id=26
-Robinson, J.J.A. Nurse Education and Nursing Mobility. International Nursing Review, 2004, 51, hal. 65-66.
-Kualitas Perawat Harus Ditingkatkan. Website URL http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/01/1101.htm
-Buchan, J. & Calman, L. Summary of The Global Shortage of Registered Nurses: An Overview of Issues and Action. International Council of Nurses. Website URL http://www.icn.ch/global/summary.pdf#search='rationursepopulation'
-Magnusdottir, H. Overcoming Strangeness and Communication Barriers: A Phenomenological Study of Becoming A Foreign Nurse. International Nursing Review, 2005, 52, hal. 263-269.
-Menasionalkan Sastra Indonesia. Website URL http://www.kompas.com/kompas-cetak/0010/07/dikbud/mena08.htm
-Davis, D., Stullenbarger, E., Dearman, C., et al. Proposed Nurse Educator Competencies: Development and Validation of A Model. Nurse Outlook 2005; 53:206-211.
Gerrish, K. The Globalization of the Nursing Workforce: Implications for Education. International Nursing Review, 2004, 51, hal. 65
Read More..
LOWONGAN KERJA PERAWAT di CHEVRON INDONESIA
Saturday, April 12, 2008
Job title: Nurse (NS-DB)
Overview of position: Nurse for Experienced Professional
Position details
Responsibilities:
Qualification:
* Minimum D3 graduate majoring in Nursing/Health.
* Minimum 5 years of experience in public health, hospital or adequate.
* Has knowledge of Clinical.
* Possesses certifications in Basic Trauma Life Support & Basic
Cardiac Life Support is an advantage.
* Familiar with Occupational Health, Safety & Industrial Hygiene:
HIPERKES.
* Good command of the English language with minimum 500 equivalent
TOEFL score.
* Basic computer literacy
* Having exposure to Oil & Gas Industry is an advantage.
Education Requirement : D3
Education Discipline: Nursing/Health
Employment Status :
GPA min.
: N/A
City:
State: Kalimantan Timur,Riau
Relocation:
Posted date: 05/04/2008
Expired date: 21/04/2008
http://chevron. experd.com
http://careers. chevron.com
Read More..
Peluang kerja perawat Indonesia ke luar negeri
Friday, February 8, 2008
Oleh: Asep Fahrudin (Disampaikan dalam acara presentasi panel diskusi di Akper TNI-AU Ciumbuleuit Bandung, 11 Oktober 2007)
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bappenas (2003), lapangan kerja baru yang tersedia tiap tahun hanya 1,1 juta sampai 1,75 juta, apalagi ditambah tiap tahun lebih kurang setengah juta mahasiswa lulus dari akademi/universitas dari berbagai disiplin ilmu semuanya memerlukan lapangan kerja baru. Di lain pihak penganggur terbuka pada tahun 2003 diperkirakan 10,13 juta jiwa dan tahun 2004 akan meningkat menjadi 10,83 juta jiwa. Sementara itu, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,03 persen pada tahun 2005 maka angka pengangguran masih akan meningkat menjadi 11,19 juta orang. Bagaimana dengan tahun-tahun mendatang disaat kita memasuki Pasar Bebas? Ketidakmampuan pemerintah dan sektor swasta untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang memadai turut memperparah situasi.
Di antara berbagai jenis tenaga kesehatan, yang paling banyak diminta dalam jumlah yang cukup besar oleh dunia internasional adalah perawat. Indonesia sekarang memiliki hampir 500 Institusi pendidikan keperawatan dan tiap tahun meluluskan sekitar 30 ribu perawat. Sedangkan daya tampung kerja di dalam negeri masih minim. Kemungkinan hanya 50 % dari kelulusan dapat terserap bursa kerja. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa ditempuh guna mengurangi angka pengangguran di dalam negeri sekaligus mendapatkan devisa dan alih pengetahuan dan teknologi luar negeri adalah mengirimkan tenaga kerja tersebut ke luar negeri sebagaimana hal ini juga dilakukan oleh negara berkembang lainnya..
Kualifikasi Internasional
Pasar global perawat sedemikian jauh dapat di bagi dalam lima kawasan.
Pertama, adalah negara-negara serumpun yang terdiri dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Timor Timur.
Di sini, kemampuan berbahasa Inggeris tidak menjadi keharusan. Lulusan Diploma III keperawatan welcome dan tentunya harus sudah berpengalaman bekerja di rumah sakit sekurang-kurangnya dua tahun, lulus seleksi tertulis dan interview dari user. Kawasan ini sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut karena dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk bersaing ke kawasan berikutnya. Dan disamping itu secara kultural kita masih memiliki hubungan emosional yang tidak jauh berbeda. Masyarakat di kawasan ini jauh lebih preferred tenaga kesehatan dari Indonesia ketimbang bangsa lain.
Kedua, pasar Asia Pasifik (Singapore. Taiwan. Japan dan Hong kong) kemampuan bahasa Inggeris aktif sudah menjadi keharusan serta lulus seleksi tertulis dan interview dari user Di kawasan ini kita sudah memasuki negara-negara yang sudah lebih maju dari Indonesia, sehingga professionalisme sudah menjadi tuntutan masyarakat.
Ketiga. kawasan Timur Tengah (Saudi Arabia. Kuwait. Uni Emirat Arab, Bahrain. Qatar. Jordania dan lain-lain). Pengalaman menunjukkan bahwa di kawasan ini sebenarnya sudah lama menerima para perawat lulusan Diploma III serta ditambah dengan pengalaman sedikitnya dua tahun di rumah sakit kemampuan bahasa Inggeris plus bahasa Arab serta lulus seleksi tertulis dan interview dari user Belakangan ini dirasakan adanya tuntutan bahwa mereka lebih menyukai perawat dengan latar belakang bacheloratau SI.
Keempat Kawasan Eropa (Inggeris. Belanda dan beberapa negara lain yang sedang dalam penjajagan seperti Italy Austria dan Germany). Di sini disamping persyaratan sebagaimana tersebut di kawasan sebelumnya maka yang terutama adalah kemampuan berbahasa Inggeris yang excellent ditambah lagi pengetahuan bahasa bagi yang non-English speaking countries.Nilai IELTS 6.5 atau setara dengan TOEFL sama dengan sedikitnva 540 harus sudah ditangan. Di kawasan ini kita sudah lama mengirimkan perawat ke Belanda. dan ke Inggeris. Pada tahun 2003 yang lalu kita baru berhasil mengirim empat orang perawat saja.
Kelima, kawasan Canada dan USA Inilah sesungguhnya pasar yang sangat menjanji kan dari segi penghasilan tetapi dengan persyaratan kualifikasi yang berat, yaitu perawat harus latar belakang SI, dan memiliki sertifikat CGFNS (Commission on Graduates Foreign Nursing Schools) suatu lembaga sertifikasi yang mewajibkan para perawat yang bukan lulusan School of Nursing di USA harus dimiliki sebelum mendapat ijin kerja. Ini adalah sebagai langkah awal untuk elanjutnya dapat bekerja di rumah sakit USA maka para perawat harus lulus test NCLEX (National Council Licensure Examination) sebagai Registered Nurse (RN). Berdasarkan pemantauan kami, sampai saat ini belum ada satupun perawat kita yang berhasil sebelum memasuki pasar USA dengan telah mengantongi sertifikat CGFNS dan lulus NCLEX-RN terlebih dahulu.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggeris, Belanda dan Timur Tengah sudah menyatakan kekurangan (shortage) tenaga perawat. Bahkan American Hospital Association menyatakan, walaupun gaji perawat yang ditawarkan mencapai 40 ribu dollar AS per tahun namun rata-rata perawat hanya tahan bekerja selama lima tahun sementara remaja-remaja AS sudah tidak berminat masuk sekolah perawat. Pada tahun 2007 ini diperkirakan AS akan kekurangan setengah juta perawat.
Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi negara-negara berkembang yang kelebihan pasokan tenaga kerja terampil. Kini tersedia kesempatan luas untuk bekerja di luar negeri dengan imbalan yang jauh lebih baik daripada di negeri sendiri.
Masalahnya, untuk menjawab tantangan tersebut diatas dengan sistem pendidikan perawat kita saat ini, mampukah menghasilkan tenaga perawat yang sesuai dengan kualifikasi baik dari segi pengetahuan, kompetensi, keterampilan, maupun kemampuan berbahasa? Mampukah perawat Indonesia bersaing dengan rekan-rekan sejawat mereka yang berasal dari Filipina, India, Sri Lanka, Pakistan, Vietnam, Mesir, Turki dan Maroko?
Ada sekitar 15.000 perawat Philipina bekerja di Amerika Serikat di tahun 2006 bahkan mereka masuk bekerja di negara-negara seperti Libya, Bahrain, Israel, Afrika Selatan, dsb. (Mungkin tidak ada Negara di dunia yang tidak ada Perawat Philipinanya) Remitance mereka mencapai 14% dari APBN Negara-nya yang mencapai U$ 25 billion pertahun. Bahkan anggota DPRnya sampai turun tangan menangani penempatan perawat, Presiden membuat Mahkamah Keperawatan setingkat Lembaga Tinggi Negara, dsb (sumber: http://thepinoy.net/?p=578 ). Bolehkah kita cemburu dengan mereka?
Lulusan keperawatan Indonesia di berbagai lembaga pendidikan keperawatan kurang diakui di dunia Internasional karena sebagian besar belum memiliki standard Internasional. Hal itu diakui staf Singapura dari Singapore International Foundation, Mr. Wen Yong Xing. Menurutnya, " Kebutuhan tenaga perawat cukup banyak, tetapi karena belum memiliki standard kompetensi internasional banyak lulusan sekolah keperawatan tidak bisa bekerja di LuarNegeri"
Padahal, gaji yang ditawarkan cukup tinggi dengan tawaran jenjang karier yang cukup menjanjikan. "Salah satu kompetensi yang harus dimiliki lulusan keperawatan adalah menguasai komunikasi Internasional ". Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam upaya pemenuhan kebutuhan tenaga perawat dunia. Namun, untuk lolos dalam persaingan internasional lulusan keperawatan di Indonesia harus membekali diri mereka dengan kemampuan standard pelayanan pasien yang digunakan di dunia Internasional. " saya yakin di Indonesia banyak lembaga keperawatan yang mampu menelurkan lulusan dengan standard yang ditetapkan," tandasnya. (Sumber: Jawa Pos-RADAR MALANG Senin,30 Juli 2007)
Dalam wawancaranya Prof. Achir Yani M.N, DNSc (Ketua Umum PPNI Pusat dan Guru Besar Universitas Indonesia Fak. Ilmu Keperawatan ) mengatakan bahwa untuk pendidikan Indonesia belum bisa dikatakan bisa bersaing dengan negara lain seperti Filipina atau India. alasannya: pertama media interaksi kita tidak dalam bahasa Inggris, kurikulum kita bagus sekali apalagi kurikulum terbaru yang sekarang sedang dilakukan pelatihan untuk dosen itu menggunakan benar-benar komprehensif hanya saja kalau media interaksi kita tidak dalam bahasa inggris, kemudian ketika melihat di stikes-stikes dan di PSIK dan fakultas-fakultas di universitas di Indonesia itu kebanyakan buku-buku yang adapun buku-buku Berbahasa Indonesia bukan bahasa Inggris jadi mereka tidak dipaparkan secara optimal untuk bisa menggunakan bahasa Inggris. Itu yang menurut saya mesti diubah. Metode lectur teaching dan lecture learning itu bisa diubah. Kemudian yang kedua adalah semangat memanfaatkan peluang. Peluang begitu besar tapi daya juang perawat Indonesia itu sangat sedikit dan betul-betul tidak seperti anda tidak berhenti untuk berjuang. Kemudian juga yang terkait dengan pemanfaatan tekhnologi informasi, mengambil artikel dari internet dan sebagainya itu kan memerlukan fasilitas sementara banyak pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia fasilitas seperti itu masih terbatas.
Menanggapi tentang target untuk perawat Indonesia untuk bisa go internasional seperti nanti pada pasar bebas tahun 2010, Ibu Yani mengatakan bahwa hanya beberapa fakultas atau program-program studi Ilmu Keperawatan atau stikes yang betul-betul serius, yang melihat bahwa mereka tidak hanya berfungsi untuk meluluskan tetapi mereka bertanggungjawab moral untuk sampai perawat-perawat lulusan institusi mereka itu terutilisasi. Hanya orang yang mempunyai pemikiran dengan prinsip dasar seperti itulah yang akan merasa bertanggungjawab bahwa dia tidak ingin mengambil uang masyarakat dari mahasiswa, mengikuti pendidikan kasih ijasah tapi betul-betul dia harus melihat bahwa lulusannya ini terpakai. Ini semua nanti akan tersensor akan terjadi suatu proses yang secara alamiah akan terjadi setelah adanya undang-undang praktek keperawatan maka akan ada uji kompetensi, hanya perawat yang lulus dari system pendidikan yang baik, yang berkualitas, yang tampaknya presentasi kelulusan uji kompetensi itu akan lebih besar sehingga masyarakat akan melihat sekolah disana banyak yang tidak dapat kerja karena tidak lulus uji kompetensi dan ini nanti bisa tutup.
Bagi kita sebagai perawat dengan ilmu yang dimiliki tentunya tidak berdiam diri dengan fakta yang ada didalam negeri, harus tergerak bisa go internasional. Walaupun kenyataan yang ada dilapangan perawat Indonesia masih sedikit dikancah internasional jika dibandingkan dengan perawat-perawat dari Negara lain seperti Philipina, India, Afrika dan beberapa negara lain.
Ada beberapa point sebagai bahan pertimbangan untuk menjadikan lulusan siap pakai sesuai kebutuhan pasar khususnya pasar luar negeri dalam menyongsong Pasar Bebas 2010
1. Penambahan jam pelajaran bahasa Inggris dan system pembelajaran yang efisien untuk memenuhi target bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
2. Penambahan skill dalam memakai computer, dalam era sekarang ini dunia keperawatan tak bisa jauh dari perangkat PC (Personal Computer). Sedini mungkin sudah bisa meng-aplikasi Microsoft office, internet, e-mail, basic pemprograman dan sebagainya.
3. Penambahan skill lapangan yang terakrediasi, atau kursus yang bersertifikat internasional/ nasional, seperti BLS, BTLS, ACLS, Disaster management, Intensif Care, Surgical Care, dll.
Sekilas gaji perawat dari Desert ke US
Di bawah ini contoh beberapa gaji perawat terutama di middle east dan di dunia (sepengetahuan saya)
1.MOH UAE : staff nurse mulai 3600 dirham, assistant 3200 dirham, IC contract 2000 dirham (mayoritas rekan dari Indonesia dapatnya IC contract)
2.Dept.of health Dubai: staff mulai 3300 - 3990 dirham, Dubai ambulance staff mulai 3990 dirham
3.Abudabi ambulance mulai 4200-4500 dirham
4.Oman rata2200-3500 oman riyal(equal 2000-3500 dirham uae)
5.Qatar hamad hospital staff mulai 6000 qatarriyal
6.Petroleum company seperti Qatar petroleuum : start 1800 USD, Adnoc abudabi 5200-5600 dirham, PETROFAC 1800-2600 USD
7.United Nation NURSE mulai dari 3000 USD sampai 6000-8000 kalo yang sudah jadi international staff
8.USA untuk RN:mulai30-45USD per jam
9. Untuk Kuwait
Gaji Perawat Per Bulan adalah :
Bagi yang bekerja di bawah kementrian kesehatan Kuwait (MOH ) berkisar antara 300 s/d 450 Kuwait Dinnar ( satu Kuwait Dinnar setara dengan 32 Ribu Rupiah)
Bagi yang bekerja di Kuwait Petrolium Hospital berkisar 500 s/d 750 Kuwait Dinnar
Baru-baru ini ada 8 (delapan) orang Perawat Indonesia di terima bekerja sebagai Team Medis di KNPC (Kuwait National Petrolium Company), Perawat Indonesia mampu menjadi mayoritas dari total 12 Perawat Baru yang diterima.
Dan gaji Perawat di KNPC sekitar 612 Kuwait Dinnar (setara 20 Juta Sebulan) dengan fasilitas yang memadai..
10. Qatar
Sebagai informasi,sudah semakin banyak perawat2 kita yg bekerja di oil gas company di Qatar rata2 bekerja sbg ambulance nurse di industrial area dan nurse dimedical center baik di onshore maupun offshore,rata2 gaji pokoknya berkisar antar 4500 Qatar Riyal sampai dengan 6000 QR ( 1 QR=2500 Rupiah ) masih ditambah berbagai allowances. Total gross salarynya berkisar 10.000 QR - 15.000 QR plus biaya pendidikan buat maksimal 4 anak,uang tiket 1x pertahun buat yg bawa keluarga dan 2x/tahun buat yg bachelor.Kalau yg bekerja di rumah sakit pemerintah bisa bergaji lebih besar lagi karena baru saja mereka menaikkan persentase gaji karyawan medisnya secara tajam untuk mengurangi jumlah perawatnya yg pada kabur memilih bekerja di Amerika disamping juga karena biaya hidup yg meningkat secara tajam terutama biaya sewa rumah,saya kurang tahu secara detailnya karena belum ada perawat kita yg bekerja di rumah sakit pemerintah di Qatar.
11.untuk di saudi standar gajinya bisa mulai dari 2600 saudi riyal
Untuk nomor 1-4 sebenarnya cukup diploma 3 perawat plus pengalaman min 2 th, dan lulus ujian dari instansi terkait, tapi sekarang untuk uae/oman sebelum kita bisa melamar di hospital setempat harus ujian local licence untuk perawat( semisal NCLEX di USA). untuk no 5-7 perlu training tambahan seperti BLS,ACLS,PHTLS,EMT, FCCS atau pengalaman di ER.
akan lebih baik kalau perawat indonesia yang ke luar negri sudah dibekali paling tidak BLS provider standard american heart association,juga ACLS selain perawat yang besangkutan lebih percaya diri juga meningkatkan daya saing termasuk bargaining gaji.
Kesimpulan:
Uraian diatas membuktikan bahwa:
1. Kompetensi perawat Indonesia di luar negeri bisa dikatakan belum siap bersaing dengan negara lain yang dalam hal ini pemerintah kita perlu meninjau kembali system yang ada dan jenjang pendidikan yang di pakai sekarang. Sistem dan jenjang pendidikan keperawatan harusnya mengacu pada standard dan system international
2. Peluang kerja bagi Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia (TKKI) untuk bekerja ke luar negeri saat ini telah terbuka luas seiring dengan era globalisasi yang juga merambah ke liberalisasi jasa kesehatan, khususnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan. Profesi Kesehatan yang banyak dibutuhkan pasar di luar negeri masih di dominasi oleh Perawat , eksistensi perawat kita di kancah internasional sudah bergema jauh-jauh hari, Profesi perawat sepanjang masa dibutuhkan oleh dunia karena profesi kita ini salah satu profesi paling mobile di dunia, paling cepat dapat kerja,dimana saja tidak terbentur di rumah sakit, di clinic , di ambulance, bahkan di konstruksi bangunan, di tempat paling terpencil pun kita masih banyak peluang.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Referensi:
"Memasuki Pasar Global Mampukah Perawat kita Bersaing" Oleh: Sudung Nainggolan, MHSc (http://www.bppsdmk.depkes.go.id)
"Ijazah Diploma III dan S1 belum diakui, Perawat Indonesia belum siap bersaingdi Luar Negeri Sumber".( www.inak.tk)
"Ratusan Ribu Peluang kerja perawat terbuang dan terbang ke negeri tetangga", oleh: Joko Winarno AMKp, EMT-BSenior Ambulance NurseQatar (http://www.inna-ppni.or.id)
PJTKI KHUSUS PERAWAT
DEPKES RI
JL.Hang Jebat Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Pusat Pronakes LN Depkes RI
Jl.Wijaya Kusuma Raya No.48 Cilandak Jakarta Selatan 12430
Telp.75914747, 75914730, Fax. 75914740
PT.BANU NUSA UTAMA
Jl. Kapten Tendean no.24, Mampang Prapatan, Telp.(021)7191012
Jakarta 12720, Indonesia
PT.BINAWAN
Jl. RP. Soeroso No. 14, Jakarta 10330, Indonesia
Phone : (+62 21) 80885348-9
Read More..