Peluang kerja perawat Indonesia ke luar negeri

Friday, February 8, 2008

Oleh: Asep Fahrudin (Disampaikan dalam acara presentasi panel diskusi di Akper TNI-AU Ciumbuleuit Bandung, 11 Oktober 2007)

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bappenas (2003), lapangan kerja baru yang tersedia tiap tahun hanya 1,1 juta sampai 1,75 juta, apalagi ditambah tiap tahun lebih kurang setengah juta mahasiswa lulus dari akademi/universitas dari berbagai disiplin ilmu semuanya memerlukan lapangan kerja baru. Di lain pihak penganggur terbuka pada tahun 2003 diperkirakan 10,13 juta jiwa dan tahun 2004 akan meningkat menjadi 10,83 juta jiwa. Sementara itu, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,03 persen pada tahun 2005 maka angka pengangguran masih akan meningkat menjadi 11,19 juta orang. Bagaimana dengan tahun-tahun mendatang disaat kita memasuki Pasar Bebas? Ketidakmampuan pemerintah dan sektor swasta untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang memadai turut memperparah situasi.

Di antara berbagai jenis tenaga kesehatan, yang paling banyak diminta dalam jumlah yang cukup besar oleh dunia internasional adalah perawat. Indonesia sekarang memiliki hampir 500 Institusi pendidikan keperawatan dan tiap tahun meluluskan sekitar 30 ribu perawat. Sedangkan daya tampung kerja di dalam negeri masih minim. Kemungkinan hanya 50 % dari kelulusan dapat terserap bursa kerja. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa ditempuh guna mengurangi angka pengangguran di dalam negeri sekaligus mendapatkan devisa dan alih pengetahuan dan teknologi luar negeri adalah mengirimkan tenaga kerja tersebut ke luar negeri sebagaimana hal ini juga dilakukan oleh negara berkembang lainnya..


Kualifikasi Internasional

Pasar global perawat sedemikian jauh dapat di bagi dalam lima kawasan.
Pertama, adalah negara-negara serumpun yang terdiri dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Timor Timur.
Di sini, kemampuan berbahasa Inggeris tidak menjadi keharusan. Lulusan Diploma III keperawatan welcome dan tentunya harus sudah berpengalaman bekerja di rumah sakit sekurang-kurangnya dua tahun, lulus seleksi tertulis dan interview dari user. Kawasan ini sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut karena dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk bersaing ke kawasan berikutnya. Dan disamping itu secara kultural kita masih memiliki hubungan emosional yang tidak jauh berbeda. Masyarakat di kawasan ini jauh lebih preferred tenaga kesehatan dari Indonesia ketimbang bangsa lain.
Kedua, pasar Asia Pasifik (Singapore. Taiwan. Japan dan Hong kong) kemampuan bahasa Inggeris aktif sudah menjadi keharusan serta lulus seleksi tertulis dan interview dari user Di kawasan ini kita sudah memasuki negara-negara yang sudah lebih maju dari Indonesia, sehingga professionalisme sudah menjadi tuntutan masyarakat.
Ketiga. kawasan Timur Tengah (Saudi Arabia. Kuwait. Uni Emirat Arab, Bahrain. Qatar. Jordania dan lain-lain). Pengalaman menunjukkan bahwa di kawasan ini sebenarnya sudah lama menerima para perawat lulusan Diploma III serta ditambah dengan pengalaman sedikitnya dua tahun di rumah sakit kemampuan bahasa Inggeris plus bahasa Arab serta lulus seleksi tertulis dan interview dari user Belakangan ini dirasakan adanya tuntutan bahwa mereka lebih menyukai perawat dengan latar belakang bacheloratau SI.
Keempat Kawasan Eropa (Inggeris. Belanda dan beberapa negara lain yang sedang dalam penjajagan seperti Italy Austria dan Germany). Di sini disamping persyaratan sebagaimana tersebut di kawasan sebelumnya maka yang terutama adalah kemampuan berbahasa Inggeris yang excellent ditambah lagi pengetahuan bahasa bagi yang non-English speaking countries.Nilai IELTS 6.5 atau setara dengan TOEFL sama dengan sedikitnva 540 harus sudah ditangan. Di kawasan ini kita sudah lama mengirimkan perawat ke Belanda. dan ke Inggeris. Pada tahun 2003 yang lalu kita baru berhasil mengirim empat orang perawat saja.
Kelima, kawasan Canada dan USA Inilah sesungguhnya pasar yang sangat menjanji kan dari segi penghasilan tetapi dengan persyaratan kualifikasi yang berat, yaitu perawat harus latar belakang SI, dan memiliki sertifikat CGFNS (Commission on Graduates Foreign Nursing Schools) suatu lembaga sertifikasi yang mewajibkan para perawat yang bukan lulusan School of Nursing di USA harus dimiliki sebelum mendapat ijin kerja. Ini adalah sebagai langkah awal untuk elanjutnya dapat bekerja di rumah sakit USA maka para perawat harus lulus test NCLEX (National Council Licensure Examination) sebagai Registered Nurse (RN). Berdasarkan pemantauan kami, sampai saat ini belum ada satupun perawat kita yang berhasil sebelum memasuki pasar USA dengan telah mengantongi sertifikat CGFNS dan lulus NCLEX-RN terlebih dahulu.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggeris, Belanda dan Timur Tengah sudah menyatakan kekurangan (shortage) tenaga perawat. Bahkan American Hospital Association menyatakan, walaupun gaji perawat yang ditawarkan mencapai 40 ribu dollar AS per tahun namun rata-rata perawat hanya tahan bekerja selama lima tahun sementara remaja-remaja AS sudah tidak berminat masuk sekolah perawat. Pada tahun 2007 ini diperkirakan AS akan kekurangan setengah juta perawat.

Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi negara-negara berkembang yang kelebihan pasokan tenaga kerja terampil. Kini tersedia kesempatan luas untuk bekerja di luar negeri dengan imbalan yang jauh lebih baik daripada di negeri sendiri.

Masalahnya, untuk menjawab tantangan tersebut diatas dengan sistem pendidikan perawat kita saat ini, mampukah menghasilkan tenaga perawat yang sesuai dengan kualifikasi baik dari segi pengetahuan, kompetensi, keterampilan, maupun kemampuan berbahasa? Mampukah perawat Indonesia bersaing dengan rekan-rekan sejawat mereka yang berasal dari Filipina, India, Sri Lanka, Pakistan, Vietnam, Mesir, Turki dan Maroko?

Ada sekitar 15.000 perawat Philipina bekerja di Amerika Serikat di tahun 2006 bahkan mereka masuk bekerja di negara-negara seperti Libya, Bahrain, Israel, Afrika Selatan, dsb. (Mungkin tidak ada Negara di dunia yang tidak ada Perawat Philipinanya) Remitance mereka mencapai 14% dari APBN Negara-nya yang mencapai U$ 25 billion pertahun. Bahkan anggota DPRnya sampai turun tangan menangani penempatan perawat, Presiden membuat Mahkamah Keperawatan setingkat Lembaga Tinggi Negara, dsb (sumber: http://thepinoy.net/?p=578 ). Bolehkah kita cemburu dengan mereka?

Lulusan keperawatan Indonesia di berbagai lembaga pendidikan keperawatan kurang diakui di dunia Internasional karena sebagian besar belum memiliki standard Internasional. Hal itu diakui staf Singapura dari Singapore International Foundation, Mr. Wen Yong Xing. Menurutnya, " Kebutuhan tenaga perawat cukup banyak, tetapi karena belum memiliki standard kompetensi internasional banyak lulusan sekolah keperawatan tidak bisa bekerja di LuarNegeri"

Padahal, gaji yang ditawarkan cukup tinggi dengan tawaran jenjang karier yang cukup menjanjikan. "Salah satu kompetensi yang harus dimiliki lulusan keperawatan adalah menguasai komunikasi Internasional ". Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam upaya pemenuhan kebutuhan tenaga perawat dunia. Namun, untuk lolos dalam persaingan internasional lulusan keperawatan di Indonesia harus membekali diri mereka dengan kemampuan standard pelayanan pasien yang digunakan di dunia Internasional. " saya yakin di Indonesia banyak lembaga keperawatan yang mampu menelurkan lulusan dengan standard yang ditetapkan," tandasnya. (Sumber: Jawa Pos-RADAR MALANG Senin,30 Juli 2007)

Dalam wawancaranya Prof. Achir Yani M.N, DNSc (Ketua Umum PPNI Pusat dan Guru Besar Universitas Indonesia Fak. Ilmu Keperawatan ) mengatakan bahwa untuk pendidikan Indonesia belum bisa dikatakan bisa bersaing dengan negara lain seperti Filipina atau India. alasannya: pertama media interaksi kita tidak dalam bahasa Inggris, kurikulum kita bagus sekali apalagi kurikulum terbaru yang sekarang sedang dilakukan pelatihan untuk dosen itu menggunakan benar-benar komprehensif hanya saja kalau media interaksi kita tidak dalam bahasa inggris, kemudian ketika melihat di stikes-stikes dan di PSIK dan fakultas-fakultas di universitas di Indonesia itu kebanyakan buku-buku yang adapun buku-buku Berbahasa Indonesia bukan bahasa Inggris jadi mereka tidak dipaparkan secara optimal untuk bisa menggunakan bahasa Inggris. Itu yang menurut saya mesti diubah. Metode lectur teaching dan lecture learning itu bisa diubah. Kemudian yang kedua adalah semangat memanfaatkan peluang. Peluang begitu besar tapi daya juang perawat Indonesia itu sangat sedikit dan betul-betul tidak seperti anda tidak berhenti untuk berjuang. Kemudian juga yang terkait dengan pemanfaatan tekhnologi informasi, mengambil artikel dari internet dan sebagainya itu kan memerlukan fasilitas sementara banyak pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia fasilitas seperti itu masih terbatas.

Menanggapi tentang target untuk perawat Indonesia untuk bisa go internasional seperti nanti pada pasar bebas tahun 2010, Ibu Yani mengatakan bahwa hanya beberapa fakultas atau program-program studi Ilmu Keperawatan atau stikes yang betul-betul serius, yang melihat bahwa mereka tidak hanya berfungsi untuk meluluskan tetapi mereka bertanggungjawab moral untuk sampai perawat-perawat lulusan institusi mereka itu terutilisasi. Hanya orang yang mempunyai pemikiran dengan prinsip dasar seperti itulah yang akan merasa bertanggungjawab bahwa dia tidak ingin mengambil uang masyarakat dari mahasiswa, mengikuti pendidikan kasih ijasah tapi betul-betul dia harus melihat bahwa lulusannya ini terpakai. Ini semua nanti akan tersensor akan terjadi suatu proses yang secara alamiah akan terjadi setelah adanya undang-undang praktek keperawatan maka akan ada uji kompetensi, hanya perawat yang lulus dari system pendidikan yang baik, yang berkualitas, yang tampaknya presentasi kelulusan uji kompetensi itu akan lebih besar sehingga masyarakat akan melihat sekolah disana banyak yang tidak dapat kerja karena tidak lulus uji kompetensi dan ini nanti bisa tutup.

Bagi kita sebagai perawat dengan ilmu yang dimiliki tentunya tidak berdiam diri dengan fakta yang ada didalam negeri, harus tergerak bisa go internasional. Walaupun kenyataan yang ada dilapangan perawat Indonesia masih sedikit dikancah internasional jika dibandingkan dengan perawat-perawat dari Negara lain seperti Philipina, India, Afrika dan beberapa negara lain.

Ada beberapa point sebagai bahan pertimbangan untuk menjadikan lulusan siap pakai sesuai kebutuhan pasar khususnya pasar luar negeri dalam menyongsong Pasar Bebas 2010

1. Penambahan jam pelajaran bahasa Inggris dan system pembelajaran yang efisien untuk memenuhi target bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
2. Penambahan skill dalam memakai computer, dalam era sekarang ini dunia keperawatan tak bisa jauh dari perangkat PC (Personal Computer). Sedini mungkin sudah bisa meng-aplikasi Microsoft office, internet, e-mail, basic pemprograman dan sebagainya.
3. Penambahan skill lapangan yang terakrediasi, atau kursus yang bersertifikat internasional/ nasional, seperti BLS, BTLS, ACLS, Disaster management, Intensif Care, Surgical Care, dll.




Sekilas gaji perawat dari Desert ke US
Di bawah ini contoh beberapa gaji perawat terutama di middle east dan di dunia (sepengetahuan saya)
1.MOH UAE : staff nurse mulai 3600 dirham, assistant 3200 dirham, IC contract 2000 dirham (mayoritas rekan dari Indonesia dapatnya IC contract)
2.Dept.of health Dubai: staff mulai 3300 - 3990 dirham, Dubai ambulance staff mulai 3990 dirham
3.Abudabi ambulance mulai 4200-4500 dirham
4.Oman rata2200-3500 oman riyal(equal 2000-3500 dirham uae)
5.Qatar hamad hospital staff mulai 6000 qatarriyal
6.Petroleum company seperti Qatar petroleuum : start 1800 USD, Adnoc abudabi 5200-5600 dirham, PETROFAC 1800-2600 USD
7.United Nation NURSE mulai dari 3000 USD sampai 6000-8000 kalo yang sudah jadi international staff
8.USA untuk RN:mulai30-45USD per jam
9. Untuk Kuwait
Gaji Perawat Per Bulan adalah :
Bagi yang bekerja di bawah kementrian kesehatan Kuwait (MOH ) berkisar antara 300 s/d 450 Kuwait Dinnar ( satu Kuwait Dinnar setara dengan 32 Ribu Rupiah)
Bagi yang bekerja di Kuwait Petrolium Hospital berkisar 500 s/d 750 Kuwait Dinnar
Baru-baru ini ada 8 (delapan) orang Perawat Indonesia di terima bekerja sebagai Team Medis di KNPC (Kuwait National Petrolium Company), Perawat Indonesia mampu menjadi mayoritas dari total 12 Perawat Baru yang diterima.
Dan gaji Perawat di KNPC sekitar 612 Kuwait Dinnar (setara 20 Juta Sebulan) dengan fasilitas yang memadai..
10. Qatar
Sebagai informasi,sudah semakin banyak perawat2 kita yg bekerja di oil gas company di Qatar rata2 bekerja sbg ambulance nurse di industrial area dan nurse dimedical center baik di onshore maupun offshore,rata2 gaji pokoknya berkisar antar 4500 Qatar Riyal sampai dengan 6000 QR ( 1 QR=2500 Rupiah ) masih ditambah berbagai allowances. Total gross salarynya berkisar 10.000 QR - 15.000 QR plus biaya pendidikan buat maksimal 4 anak,uang tiket 1x pertahun buat yg bawa keluarga dan 2x/tahun buat yg bachelor.Kalau yg bekerja di rumah sakit pemerintah bisa bergaji lebih besar lagi karena baru saja mereka menaikkan persentase gaji karyawan medisnya secara tajam untuk mengurangi jumlah perawatnya yg pada kabur memilih bekerja di Amerika disamping juga karena biaya hidup yg meningkat secara tajam terutama biaya sewa rumah,saya kurang tahu secara detailnya karena belum ada perawat kita yg bekerja di rumah sakit pemerintah di Qatar.
11.untuk di saudi standar gajinya bisa mulai dari 2600 saudi riyal


Untuk nomor 1-4 sebenarnya cukup diploma 3 perawat plus pengalaman min 2 th, dan lulus ujian dari instansi terkait, tapi sekarang untuk uae/oman sebelum kita bisa melamar di hospital setempat harus ujian local licence untuk perawat( semisal NCLEX di USA). untuk no 5-7 perlu training tambahan seperti BLS,ACLS,PHTLS,EMT, FCCS atau pengalaman di ER.
akan lebih baik kalau perawat indonesia yang ke luar negri sudah dibekali paling tidak BLS provider standard american heart association,juga ACLS selain perawat yang besangkutan lebih percaya diri juga meningkatkan daya saing termasuk bargaining gaji.

Kesimpulan:
Uraian diatas membuktikan bahwa:
1. Kompetensi perawat Indonesia di luar negeri bisa dikatakan belum siap bersaing dengan negara lain yang dalam hal ini pemerintah kita perlu meninjau kembali system yang ada dan jenjang pendidikan yang di pakai sekarang. Sistem dan jenjang pendidikan keperawatan harusnya mengacu pada standard dan system international
2. Peluang kerja bagi Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia (TKKI) untuk bekerja ke luar negeri saat ini telah terbuka luas seiring dengan era globalisasi yang juga merambah ke liberalisasi jasa kesehatan, khususnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan. Profesi Kesehatan yang banyak dibutuhkan pasar di luar negeri masih di dominasi oleh Perawat , eksistensi perawat kita di kancah internasional sudah bergema jauh-jauh hari, Profesi perawat sepanjang masa dibutuhkan oleh dunia karena profesi kita ini salah satu profesi paling mobile di dunia, paling cepat dapat kerja,dimana saja tidak terbentur di rumah sakit, di clinic , di ambulance, bahkan di konstruksi bangunan, di tempat paling terpencil pun kita masih banyak peluang.
Semoga tulisan ini bermanfaat.

Referensi:

"Memasuki Pasar Global Mampukah Perawat kita Bersaing" Oleh: Sudung Nainggolan, MHSc (http://www.bppsdmk.depkes.go.id)

"Ijazah Diploma III dan S1 belum diakui, Perawat Indonesia belum siap bersaingdi Luar Negeri Sumber".( www.inak.tk)

"Ratusan Ribu Peluang kerja perawat terbuang dan terbang ke negeri tetangga", oleh: Joko Winarno AMKp, EMT-BSenior Ambulance NurseQatar (http://www.inna-ppni.or.id)






PJTKI KHUSUS PERAWAT


DEPKES RI
JL.Hang Jebat Kebayoran Baru Jakarta Selatan


Pusat Pronakes LN Depkes RI
Jl.Wijaya Kusuma Raya No.48 Cilandak Jakarta Selatan 12430
Telp.75914747, 75914730, Fax. 75914740

PT.BANU NUSA UTAMA
Jl. Kapten Tendean no.24, Mampang Prapatan, Telp.(021)7191012
Jakarta 12720, Indonesia

PT.BINAWAN
Jl. RP. Soeroso No. 14, Jakarta 10330, Indonesia
Phone : (+62 21) 80885348-9




Posted by asep pahrudin at 10:31 PM  

0 comments:

Post a Comment